Presiden Jokowi Bangun Optimisme di Tengah Ancaman Gelapnya Ekonomi Dunia

Selamat datang Suzuki Satria di Portal Ini!

Suzuki Satria – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebut Indonesia menjadi titik terang di tengah suramnya perekonomian global. Hal ini disampaikan Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva, bahwa Indonesia menjadi titik terang di tengah suramnya perekonomian global. Presiden Jokowi Bangun Optimisme di Tengah Ancaman Gelapnya Ekonomi Dunia

Oleh karena itu, Presiden mengajak semua pihak untuk tetap optimis terhadap situasi perekonomian tahun depan. Meski demikian, beberapa lembaga internasional menyebutkan perekonomian akan gelap pada tahun 2023.

Pengamat Ekonomi Universitas Indonesia (UI) Yusuf Wibisono mengatakan optimisme harus tetap dijaga di tengah situasi perekonomian yang sulit. Ia pun sependapat dengan Jokowi untuk tetap waspada dan berhati-hati agar tidak membahayakan perekonomian Indonesia.

“Optimis tentu baik, tapi kalau tidak hati-hati menurut saya berbahaya. APBN kita ruang fiskalnya terbatas. Saran saya, hati-hati dan segera mengerem belanja yang tidak penting,” ujarnya. Yusuf.

Menurutnya, di tengah situasi global yang tidak menentu ini, dimana negara lain sedang mengalami krisis sedangkan Indonesia masih relatif stabil karena 2 hal. Benarkah Klaim Gibran Food Estate Singkong Prabowo Berhasil Panen?

“Yang pertama kita punya mekanisme subsidi harga energi yang cukup besar. Bahan bakar terutama perlite dan solar, batu bara juga kita subsidi. Ya, mekanisme batu bara kita DMO atau Domestic Market Obligation dengan harga tetap 70 dolar. per ton,” jelasnya.

“Jadi kalau harga batu bara di dunia naik, listrik kita tidak naik kan, karena kita punya mekanisme itu dan kita beruntung juga termasuk yang masih punya sumber daya alam yang melimpah, dalam hal ini batu bara.” dia melanjutkan.

Lanjut Yusuf, faktor kedua yang menunjang pertumbuhan ekonomi negara adalah tingginya harga barang, Indonesia mendapat pendapatan tinggi dari sektor tersebut.

“Kemudian yang kedua, kita mendapat pemasukan yang besar dari harga komoditas, khususnya batu bara, sawit, dan nikel. Tahun lalu booming sampai tahun ini dan akan terus berlanjut hingga awal tahun ya, tahun 2022 masih dan, ” . baru sekarang kenaikan harga ini berakhir,” jelasnya.

“Jadi dua faktor inilah yang menjadikan APBN kita kuat dalam meredam gejolak harga internasional di saat negara lain kesulitan, ya inflasi kita relatif terkendali, yang kemudian membuat kestabilan merek kita cukup baik untuk bertahan,” jelasnya.

Meski demikian, Yusuf mengingatkan pemerintah untuk memperhatikan APBN sebagai pengecualian terhadap guncangan perekonomian global. Sebab, harga komoditas diperkirakan akan melemah pada tahun depan sehingga berdampak pada pendapatan pemerintah.

“Kapasitas APBN kita tidak bisa dibandingkan 2 tahun terakhir. Kapasitas APBN tahun depan akan jauh lebih rendah, apalagi pendapatan ekspor kita di bidang komoditas akan menurun. Harga komoditas tahun depan akan semakin melemah akibat resesi global di sana,” bacanya. menjelaskan

“Ketika pendapatan tahun 2021 dan 2022 surplus neraca perdagangan dan juga surplus anggaran kita, maka penumpang utamanya adalah harga komoditas global, dan harga komoditas yang baik akan berakhir tahun depan, maka akan semakin melemah sehingga tidak bisa diharapkan lagi,” tambah Yusuf.

Selain itu, pemerintah juga harus memperkecil defisit anggaran hingga di bawah 3% Produk Domestik Bruto (PDB), karena APBN sudah tidak bisa lagi ditopang utang.

Kedua, batas utang publik terhadap defisit fiskal pemerintah harus kembali maksimal di bawah 3% defisit anggaran terhadap PDB pada tahun depan. Jadi, kalau tidak bisa, kita tidak lagi mengandalkan utang APBN dalam hal ini. 2020 -2021,” ujarnya.

Sementara itu, Presiden Jokowi menjelaskan, setidaknya ada tiga hal yang dapat meningkatkan optimisme, yaitu yang pertama adalah pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih positif.

“Di tengah krisis, di tengah resesi, Indonesia masih tumbuh sebesar 5,44 persen pada kuartal II. Hal ini patut kita syukuri. Kita termasuk negara dengan pertumbuhan atau pertumbuhan ekonomi tertinggi di antara negara-negara G20. .dan negara lain, negara lain,” kata Jokowi.

Kemudian alasan kedua adalah inflasi masih relatif terkendali di level 4,9 persen pada triwulan II tahun 2022, bahkan menjadi 5,9 persen pasca kebijakan kenaikan harga BBM.

“Silakan bandingkan inflasi kita dengan negara lain, pertumbuhan kita dengan pertumbuhan ekonomi negara lain,” jelasnya. Presiden Jokowi Bangun Optimisme di Tengah Ancaman Gelapnya Ekonomi Dunia

Lalu penyebab ketiga adalah neraca perdagangan Indonesia yang mengalami surplus sepanjang tahun 2022 bahkan setidaknya satu tahun sebelumnya, yakni selama 29 bulan terakhir.

“Sudah 29 bulan kita terus surplus neraca perdagangan. Tadi Pak Zul (Zulkifli Hasan -red) Menteri Perdagangan sudah bilang, surplus kita Januari-September mencapai 39,8 miliar USD. jumlahnya kecil. Berkat kerja keras bapak dan ibu sekalian,” ucapnya.

Oleh karena itu, Kepala Negara meminta semua pihak tetap optimis dengan situasi yang ada, termasuk berbagai perkiraan lembaga internasional yang ada.

“Lembaga internasional bilang tahun ini sulit, tahun depan gelap, tolong negara lain. Negara kita harus tetap optimis,” jelas Jokowi.